Wirausaha Kambing Sebagai Alternatif Pendapatan Bagi Guru Honorer Seperti Bapak Sugi Di Dusun Penaton
Abstract
Financial limitations are often a major problem for honorary teachers in Indonesia, especially those who work in rural areas. Low salaries, unstable payments, and lack of access to additional work opportunities force many teachers to innovate to meet their families' economic needs. One solution that can be taken is to start an independent business, as was done by Mr Sugi, an honorary teacher in Penaton Hamlet. With strong intentions, support from his family, and the use of small land around his house, he started a goat farming business as an alternative source of income. This research is a qualitative case study which aims to describe the motivations, strategies, challenges and socio-economic impacts of the goat farming business managed by Mr Sugi. Data was collected through direct observation, in-depth interviews, and documentation of daily activities on the farm. The research results show that the success of this business is influenced by the spirit of hard work, efficient time management between teaching and caring for animals, as well as the ability to learn independently through interaction with the community and online information sources. Apart from that, support from family and the surrounding social environment plays a very important role in the sustainability of this business. This business not only provides significant additional income, but also motivates local residents to run similar businesses. This research offers practical and academic contributions to the field of community-based entrepreneurship. It is hoped that these findings can motivate students to be more courageous in starting a business, and show that limitations are not a barrier to development. This research also recommends that educational institutions and the government provide more support to encourage micro business models based on local potential as indicated by Mr Sugi.
References
Marhamah, S. U., Akbarillah, T., Peternakan, J., Pertanian, F., Bengkulu, U., Supratman, J. W. R., & Limun, K. (2019). Kualitas Nutrisi Pakan Konsentrat Fermentasi Berbasis Bahan Limbah Ampas Tahu dan Ampas Kelapa dengan Komposisi yang Berbeda serta Tingkat Akseptabilitas pada Ternak Kambing Feed Nutrition Quality of Fermented Concentrate Based on Tofu and Coconut Dregs Waste Material with Different Compositions and Acceptability Levels on Goats Pakan merupakan aspek yang penting dalam peternakan karena 70 % dari total biaya produksi adalah untuk pakan . Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan , pembangkit tenaga , reproduksi dan produksi bagi ternak . Upaya untuk mencukupi kebutuhan gizi dan memacu pertumbuhan , dapat dilakukan dengan cara memberi pakan tambahan konsentrat ( Ensminger dan Parker , 1986 ). Penambahan konsentrat dalam ransum ternak merupakan suatu usaha untuk mencukupi kebutuhan zat- zat makanan , meningkatkan daya cerna bahan kering ransum sehingga akan meningkatkan produksi ternak ( Holcomb et Harga bahan konsentrat yang semakin mahal menjadikan pakan konsentrat menjadi kurang ekonomis , oleh karenanya harus ada alternatif bahan pakan lain sebagai bahan penyusun konsentrat . Ampas kelapa dan ampas tahu merupakan limbah industri yang sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi . Ampas tahu mengandung nutrisi yang baik oleh karena itu ampas tahu sangat bermanfaat bila dimanfaatkan untuk pakan ternak ( Anonim , 2012 ). Namun demikian , ketersediaan ampas tahu cukup terbatas dan cukup sulit didapatkan karena selain potensial untuk pakan ternak ampas tahu juga dimanfaatkan oleh manusia untuk pembuatan makanan olahan . Sementara itu , ampas kelapa ketersediannya masih banyak karena belum banyak dimanfaatkan , selain itu juga harga jual ampas kelapa masih sangat murah . Menurut Derrick ( 2005 ), protein kasar yang terkandung pada ampas kelapa mencapai 23 %. Kandungan serat ampas kelapa yang mudah dicerna sebagai sumber energi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ( Anonim , 2003 ), namun ampas kelapa dalam bentuk segar mudah sekali tengik sehingga cenderung tidak disukai ternak . Ampas kelapa dan ampas tahu memiliki daya simpan yang cukup pendek sehingga perlu adanya pengolahan lanjutan untuk memperpanjang masa simpan bahan tersebut , salah satunya dengan melakukan proses fermentasi . Fermentasi dapat mengawetkan dan menyebabkan perubahan tekstur , cita rasa dan aroma bahan pakan yang membuat produk fermentasi lebih menarik , mudah dicerna , dan bergizi ( Karmas , 198…. 145–153.
Novi Barlian, A., Christiyanto, M., Pangestu, E., & Ustiawan Nuswatara, L. K. (2020). Potensi Fermentabilitas Ruminal Hijauan Pakan Kambing. Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, 18(1), 37–42. https://doi.org/10.36762/jurnaljateng.v18i1.807
11.gif)











